Yang dipotong rambutnya, yang lega hatinya

Well, I must say "LEAVE THAT HAIR ALONE!" to myself. 

    Fenomena potong rambut potong sial ini sangat ramai di kalangan para perempuan cantik nan jelita di seluruh dunia. Aku yakin terjadi di seluruh dunia walaupun aku tidak yakin terjadi di semua perempuan. Seringnya berawal dengan "pusing" yang tidak bisa disembuhkan walaupun kita sudah minum paracetamol. Kebanyakan tindakannya bukan secara spesifik motong rambut, ada juga yang warnain rambut.   
    Jujur aku sebenarnya bingung, kenapa spesifik harus rambut ya? Apa ada kaitannya dengan rambut adalah mahkota wanita? Hm, tidak ada korelasinya si, tapi aku coba cari dulu beberapa bacaannya. Manteppp, ntar jadi jurnal nih tulisan. Ngga, kita cari sumber sumber di internet aja. Coba dulu ketik "why girls cut their hair ...." trus muncul options...








Nah, kita ambil paling atas ya.

Aku uda nemu alasan rasional, walaupun cuma dari satu sumber. Tulisannya gini: 

"Hair has always been seen as an element of identity, both culturally and psychologically. A person’s hairstyle not only reflects their outward appearance but also their inner world. Sometimes, a person’s emotional state is revealed in the length, color, or shape of their hair. Cutting one’s hair when upset might be the easiest way of saying, “I am no longer the same person.” Hair becomes a symbol of the pain and weight of the past, and by cutting it off, one symbolically severs ties with that past." 

    Jadi kita tuh menjadikan rambut sebagai salah satu identitas kita di masyarakat ini. Dasar ini yang kemudian membuat kita berpikir bahwa jika kita ingin memperkenalkan diri kita tentang bagaimana diri kita yang baru setelah kesedihan, kita memilih untuk memotong rambut. Tapi, mungkin, kita bukan ingin mengenalkan diri sendiri pada dunia. Cukup seperti ingin berbicara pada diri sendiri bahwa kita bisa melalui semua kesedihan dan permasalahan ini, "nih buktinya aku yang baru dengan gaya rambut yang baru!" karena menangis sudah muak, bersedih sudah membosankan, bagaimana lagi mengeluarkan emosi yang meluap-luap ini agar bisa diregulasi dengan baik? Ini jalurnya, pemahaman diri dengan identitas diri yang baru, kemantapan berpikir yang matang dan kesiapan hati yang kuat. 
    Mungkin beberapa orang tidak merasa tindakan ini logis, tapi memang kita selalu butuh hal logis jika berkaitan dengan perasaan. Kita cukup merasa, mana yang membuat nyaman dan tenang. Masalahnya masih ada, tapi yang menghadapi masalah bukan dengan pribadi yang sama juga. Keberanian untuk menghadapi masalah yang sama dengan pola pikir dan perasaan yang berbeda lah yang menjadi dasar ke'mantap'an kita melawan keterpurukan. 
    


Komentar

Postingan Populer